Rabu, 12 Januari 2011
Power Balance Diharapkan Siap Diuji Secara ilmiah
Menjaga kebugaran dan nutrisi saja dianggap belum cukup oleh manusia-manusia modern agar mereka bisa terus fit menghadapi tantangan. Kini, banyak orang merasa membutuhkan produk yang dapat meningkatkan energi.
Selain gelang dan kalung magnet, kini gelang karet berhologram Power Balance menjadi tren. Gelang berwarna-warni dengan hologram keperakan ini banyak dipakai untuk membantu tubuh berfungsi lebih maksimal. Sejumlah atlet dunia juga memakai gelang ini. Sebut saja, Cristiano Ronaldo, David Beckham, Shaquille O'Neal, termasuk atlet-atlet Indonesia.
Dedeh Erawati, atlet lari gawang Nasional, mengaku sudah cukup lama menggunakan gelang Power Balance. "Sebelum Sea Games kemarin saya sudah memakainya," katanya.
Dedeh mengaku produk ini memberinya keseimbangan, ketahanan dan fleksibilitas dalam melakukan gerakan. "Rasanya lebih pede ketika melewati gawang. Lebih mantap," ujar pemakai gelang berwarna putih ini.
Pendapat senada juga dilontarkan Tipi Jabrik, atlet surfing dari Bali. Pria yang baru setahun terakhir ini mencoba gelang Power Balance mengatakan banyak sekali manfaat yang dirasakannya.
"Gelang ini membuat saya lebih fokus dan berenergi. Apalagi alam atau laut sulit diprediksi. Dengan gelang ini saya merasa bisa mencapai peak performance saya," katanya.
Menurut dr.Phaidon L.Toruan, praktisi sport science dari PSSI, sugesti atau keyakinan adalah modal yang penting untuk seorang atlet, selain tentunya latihan. "Penelitian menunjukkan, efek sugesti bisa menaikkan kemampuan seseorang hingga 30 persen lebih banyak," kata Phaidon di sela acara press conference yang diadakan oleh Power Balance di Jakarta (12/1/2011).
Ia menambahkan, gelang Power Balance memiliki manfaat lebih daripada sugesti. "Produk ini bukan untuk memberi kekuatan lebih, bukan membuat seorang atlet bisa lari lebih cepat, tapi meningkatkan keseimbangan tubuh. Akibatnya adalah ia bisa menggunakan energinya lebih optimal sehingga energi tidak terbuang percuma," paparnya.
Pihak Power Balance sendiri mengatakan produknya tidak bisa menghasilkan dampak yang sama pada setiap orang. "Tiap orang itu unik dan berbeda, karena itu hasilnya bisa berlainan," klaim Matteo Marchesi dari Power Balance South East Asia.
Phaidon menambahkan, polusi, stres, ataupun getaran-getaran yang dirasakan setiap hari bisa menurunkan level energi seseorang. "Produk semacam Power Balance ini bisa menetralkan hal tersebut," katanya.
Harus 'evidence based'
Sementara itu, praktisi ilmu kedokteran dari Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Univeristas Indonesia (FKUI-RSCM), dr. Ari Fahrial Syam Sp.PD menyatakan, untuk mendapatkan pengakuan secara ilmiah, suatu produk atau pengobatan harus terlebih dahulu melalui proses-proses berdasarkan kajian yang bersifat empiris.
Ari mengharapkan, power balance juga siap untuk diuji secara ilmiah di lembaga atau pusat penelitian yang ada, dalam hal ini institusi pendidikan untuk pengujian manfaatnya khususnya di Indonesia.
"Misalnya melakukan penelitian pada sekelompok orang homogen, satu kelompok menggunakan gelang dengan power balance dan kelompok lain dengan power balance di mana objek penelitian dan peneliti tidak mengetahui isi dari gelang tersebut dan diukur parameter yang diharapkan dari penggunaan gelang tersebut. Double blind controlled trial. Penelitian dengan kontrol dilakukan secara tersemar ganda," papar Ari.
Saat ini, lanjut Ari, pengobatan modern didominasi oleh penerapan Evidence Based Medicine. Produk jamu yang telah digunakan oleh masyarakat Indoensia secara turun temurun pun hingga saat ini masih terus berupaya untuk mendapatkan pengakuan secara ilmiah.
"Ada proses yang harus dilalui berdasarkan level of evidence. Hal ini yang terus diperjuangkan oleh 'jamu' sehingga bisa diterima secara ilmiah," ujarnya.
1 komentar:
hello, cool blog & good content. love to read it, u must check out this website & submit your blog for free to gain more traffic. have a nice day & happy new year!
Posting Komentar